Guratan halus yang menggelontorkan ayumu itu makin menjamur. Kini kuintip tak hanya di dahi. Merambah sampai pantulan cahaya mata kian mengabur oleh kikisan usia. Masih tetap seperti dua puluh tahun silam aku masih menyebutmu dengan panggilan sayang Mak. Mak .., ketika kau lahirkan aku sebagai perempuan, banyak persyaratan yang harus kuturuti meski aku tak pernah suka. Mak... , andai aku seorang laki-laki apakah aku boleh bermain dengan teman-temanku sampai larut malam? Seperti Mas Firul, tetangga sebelah yang selalu menggendong kekasihnya Si Gadis Akustik (baca: gitar) sambil bersiul menggoda rembulan. Atau seperti anak-anak yang baru disunat itu? Memanjat pohon Kersen dan makan buahnya yang merah ranum sebanyak-banyaknya. Sambil bertengger lama-lama di ranting-ranting muda tak takut pada dunia manapun. Tapi Mak.. , aku kau lahirkan sebagai perempuan. Kata Bu Muasus guru ngajiku dulu, perempuan itu mulia. Buktinya, ...
Komentar
Posting Komentar