Berjalan melewati bebungaan. Merangkum wewangian. Meleburnya dalam syair kerinduan.
Ibu
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Bumiku,
Pertiwiku,
Rumah sakitku
Dibelenggu sistem
Kami itu pasiennya
Pasien-pasien tanpa obat
Biasa itu adalah kematian
Prikemanusiaan mulai punah
Ditelan amoral dan materi semata
Suasana ruang foto copy semakin sesak dengan antrian mahasiswa yang sedang mencetak tugas-tugas pertengahan semesternya. Sesak di ruangan itu menjalar sampai ke ubun-ubun hingga seluruh ingatan seorang gadis berkerudung biru yang sedang duduk melamun. Laptop di meja tunggu ia tatap dengan lesu. Tugas kampus yang sedang bertimbun menjadikan Ning tidak bisa menjenguk ibunya tiga bulan ini. Padahal tiga bulan lalu itu kali pertama Ning menatap mata teduh dalam wajah sosok ibu kandung. Beberapa kegiatan dan organisasi yang sengaja diikuti memang menjadi pelampiasan tersendiri buat Ning mengosongkan ruang masa lalunya yang suram. Baginya keramaian penuh sesak adalah waktu sepi yang hanya disaksikan kedipan kursor. Ning merenungkan diri. Ditampilkan kembali
Bismillaahirrahmaanirrahim 14:04 dariku Si Guru Kecil yang selalu disayangi Sobat, malam ini begitu dingin. Hujan sengaja membuat basah atap-atap kos-kosan. Sama basahnya seperti siang tadi. Aku tahu cerita hidupnya. Apakah kamu bisa merasakan apa yang kurasakan sobat? Mungkin ini sebasah pipimu yang sengaja air luhnya menggelinding dari bola mata yang kukenal sejak dulu. Aku mengenalnya karena kau sama. Bola mata yang nakal merindu kampung halaman. Sabar sobat! Meski aku tak sebanding denganmu. Lebih jauh berpuluh-puluh kilometer dari ibu asuhmu. Tepati janjimu sobat! Bertemu di kampung waktu. Ranmu Bismillaahirrahmaanirrahim 08:56 dariku Si Guru Kecil yang selalu disayangi Pagi yang cerah ya Sobat! Waktu seakan dikejar pemburu. Petang siang petang siang. Hanya itu rumus waktu. Bagaimana teman-temanmu di sana Ran ? Boleh aku memanggilmu Ran ? Seperti kusebut saat dulu. Aku rindu sebutan itu Ran . Kacau di sini. Teman-teman yang konyol. ...
Matahari merekah gincu Menyingsing pelan punggung jalan itu Bahtera kapas-kapas awan putih Menggumul Tarian sufi sang burung menguasai troposfer Kudengar sayup-sayup percakapan angin Berdesar-desar di antara daun bambu Membicarakan aku sedang termangu Kurasa disentuh dan masuk alam pikiranku Mencercaku seribu pertanyaan Akankah ku bagian indahmu? Bangkalan, 23014
Komentar
Posting Komentar