Postingan

Menampilkan postingan dengan label Resensi

Dikuliti Sampai ke Lekuk Pori

Gambar
Secara pribadi saya merasa dikuliti habis oleh surat-surat Emha yang ditulis kepada Dil, meski saya tak punya kuasa atas apa-apa kecuali kulit ari saya sendiri _ yang itu pun masih terinterferensi sabun mandi. Di sana ada semacam euforia nikmatnya jadi ayam kampung yang ditelanjangi untuk merayakan Lebaran. Emha mengajak pikiran berpetualang dalam setiap pojok sistem tata kehidupan manusia. Semua laku terasa miris, mengusik sekaligus menggelitik. Dan menyehatkan. Retorika-retorika tentang ideologi, kekuasaan, perjuangan manusia di tengah modernitas, perjuangan manusia di kolong-kolong kekuasaan membuat dahi sedikit-sedikit mengernyit. Sejurus kemudian balik lagi mengangguk-angguk, “betul..., betul....”. Tiba di lembar berikutnya, sambil tersipu-sipu bak membaca novel romantis pada bab happy ending . Dari Pojok Sejarah adalah renungan perjalanan Emha yang ditulis kepada adiknya, Dil, tentang kegiatannya selama di Eropa, “Negara Landa” dan Jerman. Tulisan berisi paradoks d...

Koyak Moyak Hukum Hindia; Hak yang Dikapir

Gambar
  Judul                : Anak Semua Bangsa Penulis              : Pramodya Ananta Tour Penerbit            : Lentera Dipantara Tahun terbit      : Cetakan 13, September 2011 Tebal buku       : 539 + xi Harga buku      : Rp 90.000,00 “Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat, dan waktu kelahiran, orang tua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.” Di saat seluruh dunia memuji-muji kekuasaan kolonial, maka yang tak kolonial akan dianggap tak memiliki hak hidup. Begitulah zaman modern. Yang tak memiliki ilmu pengetahuan; tak baru dianggap tertinggal dan kolot maka hanya akan jadi bahan penindasan dan per...

Membaca Murjangkung

Gambar
Judul                : murjangkung (cinta yang dungu dan hantu-hantu) Penulis              : A.S Laksana Penerbit            : GagasMedia Tahun terbit      : 2013 Tebal buku       : 214 + vii Harga buku      : Rp 50.000,00 Mereka datang 213 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus. Mula-mula mereka singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak dari kampung Pecinan di tepi barat sungai; lima tahun kemudian mereka kembali merapatkan kapal mereka ke pantai dan menetap di sana seterusnya. Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari Sang Pangeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai. Di sana ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal ...

Gadis-gadis yang Dirampas

Gambar
Judul               : Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer Penulis            : Pramodya Ananta Toer Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Tahun terbit    : 2001 Penyunting      : Candra Gautama Tebal buku      : IX + 218 Harga buku     : Rp 43.000,00 “…kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang bisa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu…Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…” Buku ini adalah naskah yang ditulis Pramodya Ananta Toer saat statusnya masih menjadi tapol di pulau pengasingan Buru. K...

Pergerakan Abad 20

Gambar
Judul               : Jejak Langkah Pengarang       : Pramoedya Ananta Toer Editor              : Astuti Ananta Toer Penerbit           : Lentera Dipantara Tahun terbit     : Cetakan kelima 2006 Tebal buku      : 724 + x Harga buku     : Rp 55.000,00              Pramodya Ananta Toer seorang sastrawan dan jurnalis terkenal pada masanya hingga sekarang yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara. Tetralogi Pulau Buru ini pun ditulisnya saat diasingkan di Pulau Buru sebagai tahanan politik. Ke empat bukunya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dapat diartikan sebagai pembelaan pergerakan dalam beberap...