Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Pertanggungjawaban Kalut

Pesawat terbang sedang kau buat dari sesobek kertas bekas. Menulislah kau dengan nada tak berdosa. Tak merasa hina meski pojokan-pojokan kosong menarik tanganmu. Lalu lehermu. Kemudian tubuh dan kakimu. Sederet bangku panjang menguntit dan menjejalimu dengan pertanyaan setinggi langit. Tempat bintang tak bisa menggapai singgasananya sendiri. Kosong bayang-bayang masa depan tempatmu menangguhkan alasan. Terlalu tak segan menyibukkan diri sendiri. Jawaban yang kau tahu pun hilang lumat dari rongga tenggorokmu. Seharusnya kau menanyainya saat dia marah, bukan ketika dia lelah. Lihat matanya seperti apa keletihannya. Jawaban yang kau ingin pastikan dari bibirnya tak jua bergerak pasti, karena jawaban itu adalah mantra kesensitifan. Kenapa ada be rbeda . Ketika kau usik waktu-waktu sensitif itu hanya dapat kau ketahui saat emosi menyergap ruang sunyi yang kini sedang damai dalam dirinya. Kau mengenalnya ? K au tahu ? Hati yang gemuruh kini sedang bergolak menuju titik didih, akan mem...

Geloramu

Ketika aku menahan geloramu ini sampai pada Entah. Ra, kekambuhan itu ada jika aku terhunjam bertubi-tubi oleh prasangka yang tidak jelas maunya. Aku merasakan deguban serasa itu adalah darimu. Bagaimana cara mendengarkannya. Coba kita diamkan hasrat menyapa. Biarlah telepati cara memadu rindu. Kapan kau juga serasa. Kau harus percaya Ra, aku tak pernah berniat membuatmu merintih kesakitan dada. Atau lemas semua saraf pada otakmu berpendar lalu putus persatu. Pada aku menangis mengadu yang mencipta. Anugrah itu datang begitu saja. Memrotes padanya ataukah memrotes pada diriku. Mengacak-acak semua itu pada kebimbangan-kebimbangan. Hanya tidak menghilangkan geloramu. Lalu jika dia mencemburuiku, yang cemburu padamu. Apa kau menjadi bahagia? Bangkalan, 01 09 2015

Didekap Suara

Pagi, beratmosfer canda para muda Tak dapat kularut bersama Masih ada tawa yang tertunda Menahanku dalam dekapan suara Bagaimana kau seduh pagi  Biar hangat menjulur ke kaki Sampai pagi disambut dhuha Aku masih mengingat Cari-cari kau yang kucari Ajari aku meramu pagi Meramu angin dan pohon kelapa Agar indah, Bernyanyi dalam kata Juga sanggup kuhibur kolibri di sini Dengan cerita yang kau tulis di sana Bangkalan, Juni 2015

Akukah itu?

Aku semakin gila membumbung dalam angan-angan. Ra, kau semakin dalam membawaku menyusuri tabur-tabur sakura pada terowongan kata. Gemulai membentuk syair-syair jiwa. Ada kata cemburu yang meyakinkan aku. Ada perih rindu yang mencarimu. Ketika malam semakin teduh menangkupku di antara doa. Baru saja. Baru saja aku merasa papa. Merenung kepapaan-kepapaan lama. Menjadi anak itik yang merana. Dihempas riak-riak danau gelora. Namun kepapaan membuatku lebih peduli. Aku tidak mengerti arti rasa. Apapun yang kutulis untuk mendefinisikannya. Kuhapus. Kutulis. Kuhapus. Kutulis. Kuhapus lagi. Kau takkan temukan Ra. Namun semakin aku bingung pada diriku sendiri. Semakin aku tak menginginkan hilangmu. Waktu menumbuhkannya menjadi rindu menggumpal. Cairkanlah sedikit demi sedikit rinduku dengan penamu, Ra. Hanya sedikit obat rindu agar aku bertahan. Bangkalan, 05 Agustus 2015

Pulang

Aroma nyiur semerbak dihempas-hempaskan angin laut Semakin dekat saja ketika waktu itu tiba Sorak-sorai para gadis dan jejaka Merasuk ke lubuk jiwa Menggugah untuk singgah di budaya kanak-kanak Hanya digugah tak beranjak Bak bujang nganggur Malas-malasan di kasur Menunggu guyur Barulah mau membaur Miris disayat-sayatkan di hati Antara enggan lalu segan Beginikah hidup manusia? Melilit-lilit angka ketidakpastian Langkah berat-berat kudengar sendiri Nun yang mana akan kutuju Bangkalan, Mei 2015

Kumandang Adzan

oleh Anggun Putri Semua membisu Di atasnya baja Manusia membaja Sambil dinikmatilah suara itu Bukan adzan yang berkumandang Ra... Bukan Bukan itu. Asap rokok dibebaskan menimpa wajahnya Suara itu tetap berkumandang Ra. Menyimpan segala saksi Kalimas, 19 April

Saat Kukembali

Sampai-sampai senja meninggalkanku sendiri Kujalani malam sisa hujan tanpa kumengerti Ketika kubertanya Gila Orang gila yang kutanya Kutertipu dengan jasnya Ra... Tertipu. Dijawabinya dua titik Dua titik Apa itu? Aku semakin tersesat Tapi Ra... Seandainya tak kuturuti orang gila itu Mana mungkin kudapatkan bunga mawarmu Saat aku berhenti di persimpangan buntu Bungamu ada di tepian gang Ditemani sinar obor, redup, kuyu ingin layu Kupungut saja Ra... Buat apa Gang buntu tak perlukan bunga Ternyata... Dua titik Dua titik Titik terang Titik untuk bertemu bunga dan titik untuk kembali Bangkalan, 19 April

Aku dan Sunyi

Kita bagai putik dan kelopaknya Bagai sore dan senjanya Berpadu lalu indah Mengolah lara menjadi tawa Mengolah rindu menjadi cinta Trunojoyo, 11:11

Ratapan Sepatu Veteran

Aku tak suka tempat ini Di sini tak kudengar lagi Ledakan meriam kenyang amunisi Derap-derap kaki Memikirkan masa depan Negeri Kucium kesederhanaan prajurit Bagaimana mungkin aku ikhlas hati Melihat modernisasi Dulu api yang meledak-ledak di kaki Kini membakar-bakar hati yang suci Membela tanah ini, Tuanku rela mati Tanah modernisasi Penjajah datang lagi Seribu, dari seribu satu Mencampakanku Ingin menghancurkanku Dibuang! Dan aku membusuk Di tempat pembuangan modernisasi Sepatu Veteran  tak laku lagi Bangkalan, November 2014

Ibu

Bumiku, Pertiwiku, Rumah sakitku Dibelenggu sistem Kami itu  pasiennya Pasien-pasien tanpa obat Biasa itu adalah kematian Prikemanusiaan mulai punah Ditelan amoral dan materi semata Bangkalan, 2014

Tangan Dzalim

Gambar
Terombang-ambing, terserak ombak tengah laut

Hujan

Hujan Tak Perlu Dibenci Jelaga kapal mengepul-ngepul membuat warna kontras di awan Berpudaran mengumalkan atmosfer sejernih laut biru Perjalananku mengulang kembali pemandangan itu Di atas Kapal Feri Bersama rintiknya gerimis senja Persis apa yang dirasa ranting basah tepi pelabuhan Memaksa basah hati yang tak bisa melebur rindu Sampai kapal melabuh, Kulangkahkan kakiku kembali Melewati anak-anak pembawa payung, yang berebut manusia pembenci hujan Cukup senyum penolakanku yang tetap setia menyentuh hujan Rindu yang terlampau kering itulah yang memaksaku Aku masih beruntung, Ya...tidak seperti anak-anak di bawah lampu lalu lintas itu Menyemprot-nyemprotkan air sabun cuci ke kaca-kaca mobil Tak peduli caci Tak peduli gaji Terus mengubur rindunya kasih jalanan Surabaya, 2014

Langit Biru

Gambar
Matahari merekah gincu Menyingsing pelan punggung jalan itu Bahtera kapas-kapas awan putih Menggumul Tarian sufi sang burung menguasai troposfer Kudengar sayup-sayup percakapan angin Berdesar-desar di antara daun bambu Membicarakan aku sedang termangu Kurasa disentuh dan masuk alam pikiranku Mencercaku seribu pertanyaan Akankah ku bagian indahmu? Bangkalan, 23014

Di Mana Menempatkan Diri

Pagi tadi aku bertemu denganmu Jilbab hijau yang kau kenakan sejak lama Baru kulihat manis diwajahmu tadi pagi Siapa pemilik dua bola mata ini? Pagi tadi aku bertemu denganmu Kau panggil aku seperti biasanya Entah kenapa aku risih mendengarnya Siapa pemilik dua daun telinga ini? Di manakah aku harus menempatkan diri? Dua bola mataku... Dua daun telingaku... Mana? Yang harus kupilih BG, 171014

Tak Seperti Biasanya

Burung Kuning yang biasa menari di taman bunga Lili Putih hari itu. Diam di atas ranting kering pohon Waru. wajahnya tak secerah biasanya. Tampak ditutupi awan lembah duka. Matanya juling berputar-putar lemas. Tak seceria biasanya. Menerawang dalamnya jurang berlembah dingin. Takut tak ada kehidupan di sana. Sayapnya patah lemah. Perjalanan panjang dan bahaya masih membekas di dua bola matanya. Hatinya dingin membatu di dalam keterpurukan. Cakar-cakar yang biasa lentik menari di udara terkapar rapuh. Menggenggam ranting dengan sisa nafas. Tak seperti biasanya. Badai tadi malam merusak bulu-bulu cantik, lambang keceriaannya. Semut merah di lubang kecil terus memandangi. Menunggu kepastian. Burung Kuning terbang kembali ke peraduan bunga Lili Putih, atau jatuh merebahkan sayap terakhir ke peraduan tanah. Mengucap salam perpisahan pada bunga. Dan dunia  tak seperti biasanya. BG, 2014

Sayangku Padamu Sayang Tanpa Kata

Kata Terselip dalam uraian cerita perjalananku di sini. Ketika dua bola mataku mengagumi Akan kupetik satu bintang paling terang. Katanya... Di langit gelap Di langit jauh Di langit tinggi itu... Tentram hatiku kala kudengar suaramu Mendung senja turut terharu Turut menitikkan air tetesan damai Kala kuinginkan bintang paling terang milikku Dengan apa kugapai? Seribu sayap yang membumbungku ke langit Doa dan restumu Sayangmu sayang tanpa kata Bangkalan, 2014