Postingan

Menuju “Sigolo Golo”; Lewati Situs Sejarah

Gambar
"Sejuknya Sigolo Golo river" Liburan akhir pekan bagi para pecinta sejarah. Melewati jalur yang searah namun tak mengurangi target rentetan kunjungan tempat-tempat wisata. Apalagi bagi kita yang statusnya masih pelajar ataupun mahasiswa belum berpenghasilan tetap. Ibarat pepatah ”Sambil menyelam minum air” dan yang satu ini tak membuatmu tenggelam karena terlalu banyak minum air. (intermeso).   Hemat namun tetap dapat menjelajah. Begitulah prinsipku dan teman-teman saat jenuh berkutat dengan lembaran kertas namun masih terus berada pada garis pengiritan.    Kota Mojokerto sebagai pusat kerajaan Majapahit meninggalkan kekayaan sejarah berupa situs-situs purbakalanya. Menjadi warga asli Mojokerto tentu memiliki kebanggaan tersendiri. Berbatasan dengan kabupaten Jombang akan dekat pula dengan Sigolo Golo river dan Sigolo Golo cave, di Desa Panglungan, Dusun Sranten, Kecamatan Wonosalam . Selain buah duriannya ternyata masih banyak lagi daya tarik yang dimili...

Gadis-gadis yang Dirampas

Gambar
Judul               : Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer Penulis            : Pramodya Ananta Toer Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Tahun terbit    : 2001 Penyunting      : Candra Gautama Tebal buku      : IX + 218 Harga buku     : Rp 43.000,00 “…kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang bisa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu…Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…” Buku ini adalah naskah yang ditulis Pramodya Ananta Toer saat statusnya masih menjadi tapol di pulau pengasingan Buru. K...

Pergerakan Abad 20

Gambar
Judul               : Jejak Langkah Pengarang       : Pramoedya Ananta Toer Editor              : Astuti Ananta Toer Penerbit           : Lentera Dipantara Tahun terbit     : Cetakan kelima 2006 Tebal buku      : 724 + x Harga buku     : Rp 55.000,00              Pramodya Ananta Toer seorang sastrawan dan jurnalis terkenal pada masanya hingga sekarang yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara. Tetralogi Pulau Buru ini pun ditulisnya saat diasingkan di Pulau Buru sebagai tahanan politik. Ke empat bukunya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dapat diartikan sebagai pembelaan pergerakan dalam beberap...

Didekap Suara

Pagi, beratmosfer canda para muda Tak dapat kularut bersama Masih ada tawa yang tertunda Menahanku dalam dekapan suara Bagaimana kau seduh pagi  Biar hangat menjulur ke kaki Sampai pagi disambut dhuha Aku masih mengingat Cari-cari kau yang kucari Ajari aku meramu pagi Meramu angin dan pohon kelapa Agar indah, Bernyanyi dalam kata Juga sanggup kuhibur kolibri di sini Dengan cerita yang kau tulis di sana Bangkalan, Juni 2015

Akukah itu?

Aku semakin gila membumbung dalam angan-angan. Ra, kau semakin dalam membawaku menyusuri tabur-tabur sakura pada terowongan kata. Gemulai membentuk syair-syair jiwa. Ada kata cemburu yang meyakinkan aku. Ada perih rindu yang mencarimu. Ketika malam semakin teduh menangkupku di antara doa. Baru saja. Baru saja aku merasa papa. Merenung kepapaan-kepapaan lama. Menjadi anak itik yang merana. Dihempas riak-riak danau gelora. Namun kepapaan membuatku lebih peduli. Aku tidak mengerti arti rasa. Apapun yang kutulis untuk mendefinisikannya. Kuhapus. Kutulis. Kuhapus. Kutulis. Kuhapus lagi. Kau takkan temukan Ra. Namun semakin aku bingung pada diriku sendiri. Semakin aku tak menginginkan hilangmu. Waktu menumbuhkannya menjadi rindu menggumpal. Cairkanlah sedikit demi sedikit rinduku dengan penamu, Ra. Hanya sedikit obat rindu agar aku bertahan. Bangkalan, 05 Agustus 2015

Penasaran Jatuh Kagum

Gambar
Ditulis tgl 6/28/15             Kenapa ya.., kok nervous ? Sosok ini sejak tadi malam membuatku penasaran. Jam menjalankan detiknya di dalam dada. Thak..Thak..Thak. Begitu aneh bukan yang biasa memompa darah-darahku selama 21 tahun ini. Membangunkan rasa yang lain, tapi bukan seperti rasa yang sedang kurahasiakan. Puisi-puisinya sempat kuburu dan cerpennya yang berjudul Jaring-jaring Merah membawaku mengelana ke suatu perjuangan di Aceh.  Duka yang memesona. penulisnya sempat diancam dibunuh masa itu. Aku jadi semakin penasaran karena kabar bahwa dia akan singgah ke kampusku. Diriku semakin terbawa euforia pada detak-detak yang kutahu ketika mendekat semakin mendetak cepat.             Kau tak perlu cemburu Ra, ini tak seperti yang kau………..             Ran, simaklah baik-baik jika kau mengerti ceritaku. Sebagai pe...

Masih Anak-anak

Ra, pagi yang buta aku masih tak bisa hilang dari peluk malam. Sampai sejauh ini untuk beranjak dewasa keimanan ini masih saja untuk diriku sendiri. Bergaul akrab dengan pikiran sendiri dan terlalu malu mengakrabi dengan yang lain. Kuperkenalkan kau dengan seorang. Lihatlah Ra. Bila sekali temu, kecantikannya meruntuhkan logika kaummu. Ketika itu diambilnya satu diantara tumpukan buku paling berat. Dia seorang yang baik dan supel. Tangannya yang halus mungil membuka satu persatu halaman. Tetap saja yang menarik baginya adalah gadget yang belum sempurna di cash di atas meja. Begitu lama bercengkrama dengan sahabat maya, belum juga tuntas sampai Maghrib tiba. “Ayo kita nonton!” 40.000 itu hal yang tak jadi pikiran. Buang saja uang segitu. Ra dibandingkan dengan buku yang dielusnya tadi tak ada niatku untuk membandingkan. Terserah  manusia memilih. Tapi Ra, asal jangan terlena dengan kenyamanan yang dibuatkan dunia. Seorang intelligen sudah dibekali cara berfilsafat. Bahkan kau ...

Aku Bukan Penulis!!!!!

Pengalaman pertama ikut lomba cipta cerpen? GOKIL karena nekad bangets. Ilmu yang aku pelajari di sekolah adalah ilmu eksak dan aku tidak mengenal dunia tulis menulis (kecuali nulis-nulis tugas sekolah, ketik-ketik sms, status fb. Hehehe ) Awal pengen ikutan lomba? Nggak tahu dari mana datangnya.  Okelah, aku pikir apa salahnya mencoba. Lagian aku sudah tercebur di PBSI. Dulu, aku juga suka mengarang. (Mengarang bebas jawaban ujian, maksudnya) Nah, yang aku inget pas hari H.  Waduh, kelimpungan, alias mati kutu pas tahu waktu membuat cerpen cuma 45 menit dan tema ditentukan di tempat. Mikir judul aja 20 menit. Lah, gimana yang lainnya; outline , kalimat utama, kalimat penjelas, penokohan, belum lagi kepaduan paragrafnya. Ditambah  suara keyboard peserta lain yang bikin nafas ikut tertahan dalam bunyi tak-tik-tak-tik . Cepet banget mirip lomba lari 100 m. Bedanya yang ini larinya pake jari dan ide-ide. Tumpuannya keyboard komputer bukan jalan aspal. Agghhh pengen ras...

Catatan Ketika Ngantuk

Kuliah Tamu “Prepare to Change the Word” 24 Februari 2015 oleh Prof. David Pickus (USA) *Seorang intelek dengan kefasihan berbagai macam bahasa asing termasuk bahasa Indonesia. Berkeliling Negara-negara untuk mendalami ilmu. Ternyata prof David suka bikin anekdot juga. Bakat jadi pelawak sih prof… J “nama saya Pickus bukan tikus” J . Yang bikin saya terkesan, yaitu orangnya murah senyum dan apresiatif. Sayangnya tadi saya belum begitu paham tentang yang dipresentasikan. Untungnya sih ditranslet Pak Dosen. Lumayan ada catatan yang bisa saya torehkan. Bisa dibaca di bawah ini J .   Di era globalisasi, teknologi yang mahal tetap digunakan karena menjadi kebutuhan. Sebagaimana pula bahasa Madura (regional) agar menjadi besar adalah salah satu mengglobalkan bahasa. Misalnya juga barang-barang seperti HP dan kartu GSM, bisa menjadi milik siapa saja meski yang membuat adalah orang Cina. Juga sistem. Sistem bisa dishare . Sehingga bisa digunakan banyak orang. Akan tetapi kita har...

Menjejakkan Kaki di Kota Pak Presiden

Gambar
05, 05, 2015             Perkenalkan, ini tentang persahabatan yang luar biasa. Melangkahkan kaki dengan seribu tanya. Namun siapapun ia terus memacu titik lebur keraguan. Hampir-hampir sudah selama tiga hari aku di sini. Ajaibnya, waktu menyitakan fokus hati. Mereka luar biasa. Siapa  tak menyangka dengan berbalut keanggunan, mereka tiba dari seluruh penjuru kota. Membuat jiwa terus belajar kepada siapa saja dan di mana saja. Karena perjalanan ditempuh lengkap dengan kisah berbagai perjuangannya. Perkenalanku dengan "dia" mahasiswi Sumbawa             Luas ukuran kamar empat kali luas kamar kosku di Madura. Sejak tiba aku sudah tertarik dengan berbagai lukisan yang dipajang di dinding kamar bagian luar. Begitu juga suara gamelan bertalu-talu di tengah-tengah pendopo. “Apa nama tempat ini?” Tiap malam gamelan selalu dimainkan. “TBJT” Kata seorang mahasiswi asal...